Ikuti Kami
Lensa Biru

Motor Listrik EMMO di Program Makan Bergizi Gratis Dikritik Pakar ITB

Sinta Utami | Lensa Biru
Sabtu, 11 Apr 2026 23:30 WIB

lensaberita.site – Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, melontarkan kritik tajam terkait pemilihan motor listrik EMMO sebagai kendaraan operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena dianggap kurang ideal dari sisi jaringan purna jual dan nilai TKDN. Penggunaan unit motor listrik dalam skala besar ini menjadi sorotan mengingat pentingnya reliabilitas kendaraan untuk distribusi pangan di wilayah nasional.

Fakta Utama Kendaraan Listrik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi inisiatif strategis pemerintah dilaporkan akan menggunakan armada motor listrik dari brand EMMO. Kendaraan yang dipilih adalah jenis motor listrik trail, salah satunya model EMMO JVX GT, yang diproyeksikan untuk menjangkau wilayah-wilayah dengan medan sulit.

Pabrikan EMMO sendiri merupakan pemain yang relatif baru di industri otomotif nasional, di mana brand ini tercatat mulai eksis sekitar tahun 2021. Dalam proyek pengadaan yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) ini, nilai investasi yang terlibat sangat fantastis, yakni mencapai Rp 1,2 triliun untuk pengadaan sebanyak 21.801 unit operasional lapangan di seluruh Indonesia.

Spesifikasi dan Teknologi

Meskipun detail teknis spesifik mengenai kapasitas baterai dalam kWh tidak dirinci secara mendalam dalam dokumen pengadaan awal, EMMO JVX GT hadir dengan formasi motor listrik tipe trail. Kendaraan ini dirancang untuk memiliki durabilitas di medan off-road, yang secara teori cocok untuk wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Namun, teknologi motor listrik yang diusung harus menghadapi tantangan berat terkait ketersediaan suku cadang. Sebagai kendaraan operasional yang bekerja setiap hari, efisiensi energi dan sistem pengisian daya menjadi kunci. Tanpa dukungan infrastruktur pengisian yang memadai di daerah pelosok, penggunaan EV (Electric Vehicle) dalam skala masif ini dikhawatirkan akan menemui kendala teknis di lapangan.

Fitur Unggulan

Secara fungsional, motor listrik trail seperti EMMO JVX GT memiliki keunggulan pada ground clearance yang tinggi dan sistem suspensi yang kokoh untuk melibas jalanan rusak. Fitur ini memang dibutuhkan untuk memastikan distribusi makanan bergizi tidak terhambat oleh kondisi geografis yang ekstrem.

READ  Wuling Eksion Resmi Meluncur: Harga Rp 389 Juta, Tembus 1.000 Km!

Namun, dari sisi ergonomis, terdapat catatan penting. Desain motor trail yang tinggi dianggap kurang ramah bagi pengendara perempuan atau ibu-ibu, yang diprediksi akan banyak terlibat dalam operasional distribusi makanan ini. Penggunaan skuter matik listrik sebenarnya dianggap lebih sesuai dengan budaya berkendara masyarakat lokal, terutama bagi mereka yang menggunakan busana muslim atau pakaian kerja harian.

Kronologi atau Detail Peluncuran

Kabar mengenai penggunaan motor listrik EMMO ini mencuat seiring dengan persiapan intensif Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menggulirkan program MBG secara nasional. Pemilihan unit ini dilakukan melalui mekanisme e-Katalog LKPP, yang secara legalitas memang sah untuk pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Momentum ini sebenarnya menjadi sinyal positif bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di instansi pemerintah. Namun, skala proyek yang melibatkan puluhan ribu unit dalam satu waktu menuntut kesiapan manufaktur dan rantai pasok yang sangat matang agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.

Nah Lho... Pakar Klaim Motor Listrik EMMO Tak Ideal untuk Operasional MBG!

Harga dan Skema Subsidi

Meskipun harga per unit secara retail tidak disebutkan secara rinci, total anggaran Rp 1,2 triliun untuk 21.801 unit memberikan gambaran bahwa pemerintah mengalokasikan dana yang signifikan untuk transisi energi di sektor transportasi publik.

Unit motor listrik ini juga berkaitan dengan kebijakan subsidi kendaraan listrik dan insentif pemerintah yang mendorong peningkatan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri). Namun, nilai TKDN pada EMMO yang dilaporkan hanya sebesar 48,5% menjadi poin kritik karena dianggap belum memberikan nilai tambah ekonomi yang maksimal bagi industri komponen lokal di Indonesia.

Pernyataan atau Fakta Penting

Yannes Pasaribu menekankan bahwa faktor reliabilitas jangka panjang adalah hal yang krusial. "Jelas tidak sepenuhnya ideal meski legal via e-Katalog LKPP. Emmo relatif baru, jaringan service masih terbatas, dan TKDN hanya 48,5% sehingga nilai tambah ekonomi rendah," ujar Yannes.

Beliau juga menambahkan kekhawatiran mengenai risiko downtime. "Jika jejaring purna jual dan parts lain tidak siap, dijamin risiko downtime lebih tinggi dibandingkan merek mapan lokal yang sudah lebih bagus jejaring 3S-nya (Sales, Service, Spare parts)," tegasnya. Hal ini menjadi peringatan bagi BGN agar tidak hanya melihat harga, tetapi juga keberlangsungan operasional kendaraan di masa depan.

READ  Lexus TZ Resmi Meluncur: SUV Listrik 3 Baris Jarak Tempuh 530 Km

Dampak ke Industri dan Pasar

Kritik terhadap pemilihan brand motor listrik yang belum memiliki jaringan luas ini bisa berdampak pada persepsi publik terhadap kendaraan listrik secara umum. Jika ribuan unit motor mengalami kerusakan dan tidak bisa diperbaiki karena ketersediaan suku cadang yang minim, hal ini dapat memperlambat kepercayaan masyarakat untuk beralih ke EV.

Di sisi lain, persaingan antar brand motor listrik Indonesia akan semakin ketat. Brand-brand yang sudah memiliki pabrik besar dan jaringan dealer yang tersebar di seluruh provinsi seharusnya mendapatkan porsi lebih besar dalam proyek strategis nasional untuk memastikan ekosistem energi ramah lingkungan berjalan berkelanjutan.

Infrastruktur dan Ekosistem

Keberhasilan penggunaan motor listrik dalam program MBG sangat bergantung pada kesiapan charging station atau minimal kemudahan pengisian daya di kantor-kantor unit pelayanan gizi. Tanpa ekosistem pendukung yang kuat, motor listrik hanya akan menjadi aset yang mangkrak.

Pemerintah melalui PLN terus berupaya memperbanyak SPKLU dan SPBKLU, namun untuk wilayah pelosok, tantangan infrastruktur kelistrikan masih menjadi hambatan utama. Kesiapan pasar Indonesia dalam menerima teknologi baru ini harus dibarengi dengan edukasi teknis bagi para operator di lapangan.

Konteks Tambahan

Secara global, peralihan ke kendaraan listrik adalah keharusan untuk mencapai target net zero emission. Langkah pemerintah menggunakan motor listrik untuk program sosial seperti Makan Bergizi Gratis adalah langkah progresif yang patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen terhadap lingkungan.

Namun, dalam implementasinya, pemilihan unit harus didasarkan pada riset mendalam mengenai kebutuhan lapangan dan kemampuan purna jual produsen. Transisi dari kendaraan konvensional ke mobil listrik atau motor listrik bukan sekadar mengganti mesin, melainkan membangun sistem pendukung yang menjamin kendaraan tersebut tetap bisa beroperasi dalam jangka waktu yang lama.

Tentang Penulis
Sinta Utami
Sinta Utami